Minggu, 01 Mei 2016

Ketika Waktu (sedang) Tidak Bersahabat Dengan Kita

Sumber Gambar www.gregetan.com


Pernahkah kita sangat menginginkan sesuatu?
Pernahkah kita menyebutkan keinginan tersebut dalam setiap do’a kita sepanjang waktu?
Sejauh mana kita menginginkan hal itu?
Tentu, sebagai manusia kita memiliki hawa nafsu, dan dari hawa nafsu tersebut seringkali melahirkan keinginan-keinginan dan harapan-harapan. Tapi tentunya harus menginginkan sesuatu yang positif lo  ya. Misalnya saja, tahun ini kita berharap bisa menyelesaikan naskah novel yang telah lama kita diamkan berdebu, atau mungkin tahun ini kita berkeinginan untuk membeli mobil yang telah lama kita incar dan lain sebagainya. Saya yakin itu hanya secuil dari sekian banyak keinginan-keinginan yang telah kita buat yang tentunya juga berbeda satu sama lain. Nah, ketika keinginan untuk memiliki atau mendapatkan sesuatu itu semakin kuat, pastinya juga kita imbangi dengan do’a kan? Yup, sebab apabila kita hanya menginginkannya tanpa usaha ataupun do’a itu berarti kita tidak benar-benar menginginkannya. #plaak! Jangan berharap dikasih kalau kita enggan berusaha dan berdo’a.
Lalu bagaimana ketika kita sangat menginginkannya, namun ternyata takdir berkata lain. Yup, kenyataan tidak seperti yang kita harapkan. Misalnya saja kita berencana untuk menikah tahun ini, tetapi orangtua justru belum mengizinkan dengan sederet sebab dan alasan. Sedangkan kita sudah merasa mampu dan siap. Ah, tentu saja bagaikan disambar petir di siang bolong bukan? Harapan yang selalu kita sampaikan pada-Nya ternyata harus tertunda karena orangtua yang tidak sependapat dengan kita. Bahkan kita sampai mendebat orangtua agar mereka mengerti dan paham maksud kita. Nah loh, malah semakin ditunda tuh gegara Allah ikutan sebel karena kita maksa, hayo ,,, ga mau seperti itu kan?
Lagi-lagi ini hanya soal waktu. Kita menginginkannya sekarang, tapi orangtua inginnya nanti. Lantas, kira-kira di Lauhul Mahfudz sana Allah menargetkannya kapan ya? Hihihi, kan jadi penasaran juga. Jika sudah seperti itu lebih baik kita kembali pada salah satu firman-Nya yang artinya, “Jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu”. Sholatnya udah rajin belum tuh? Tepat waktu kah? Genap 5 kali kah? Jawabannya hanya ada pada diri kita sendiri. Lalu, sudah bersabarkah kita? Tentu kita selalu berusaha untuk sabar, tapi ikhlas ga dengan ketentuan-Nya? Mungkin di awal kita akan sulit untuk mengikhlaskan takdir yang harus kita jalani, namun, percayalah, Allah senantiasa mengulurkan tangan-Nya untuk menguatkan kita. Jika kita merasa sudah sulit untuk bersabar, jangan mudah menyerah dan lagi-lagi menyalahkan keadaan ya. Sebab apa? Sabar itu latihannya setiap hari, jadi wajar saja kalau kadang kita udah ga sabaran. Intinya, berusahalah untuk selalu upgrade kadar kesabaran kita ya. Biar hatinya juga tenang dan ga ngeluh-ngeluh lagi. Hihihi

Ketika waktu sedang tidak bersahabat dengan kita, anggap saja, ini adalah sebuah teka-teki dari Allah yang harus kita pecahkan. Yuhu, masih ingat kan? Jika Allah tidak menciptakan segala sesuatunya dengan kesia-siaan, dalam artian, selalu ada hikmah dalam setiap ujian yang diberikan. Nah, sekarang tugas kita adalah perbanyak muhasabah diri. Kalau perlu coba deh berdiri di depan cermin kemudian monitoring serta evaluasi diri. Dramatis ya? Hehe, tapi itu ampuh juga kok. Intinya, jika kita sedang dipeluk masalah, berusahalah untuk tetap husnudzon terhadap-Nya. Bukankah prasangka Allah bersama prasangka hamba-Nya? Let if low dear, you are not alone.

2 komentar: